Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

13 Desember 2014

Itu Bukan Adat Kita

Kebodohan kaum muslimin menimbulkan sebuah fenomena Tasyabbuh dimana kaum Muslimin dengan mudahnya mengikuti budaya asing yang tidak sejalan dengan Ajaran Islam. Diantara adat dan kebiasaan itu adalah mengucapkan "Selamat Natal" dan membantu prosesi ibadah kafir Nashrani dengan dalih TOLERANSI BERAGAMA. Lalu bagaimana para ulama menyikapi itu ? Berikut pembahasannya

Syeikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin –rahimahullah- ditanya tentang hukum mengucapkan "Selamat Natal" dan bagaimana membalas ucapan mereka ketika mereka mengucapkannya kepada kita. Juga tentang boleh tidaknya pergi ke tempat-tempat upacara perayaan dalam rangka hari raya tersebut dan apakah seseorang berdosa jika melakukan –walau sedikit- apa yang sudah disebutkan tanpa maksud bersengaja, tapi ia lakukan karena basa-basi atau karena malu, atau terpaksa dan sebab-sebab lainnya. Dan Bolehkah menyerupai mereka dalam perayaan tersebut ?

12 Desember 2014

Rahasia Kayu Siwak

Satu lagi sunnah amalan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah bersiwak (gosok gigi). Bersiwak…! Pernahkan anda mendengar kata siwak?

Kata siwak digunakan untuk mengungkapkan perbuatan bersiwak (gosok gigi) dan juga digunakan untuk makna akar kayu (salvadora persica) yang digunakan untuk bersiwak [Khulashah al Ahkam Syarh 'Umdah al Ahkam: 24]


Selain itu istilah Siwak juga dipakai untuk pembersih gigi yang berasal dari ranting pohon lainnya seperti Zaitun atau sejenis pohon sambur. Kendati demikian, siwak terbaik biasanya menggunakan akar pohon arak, terutama rantingnya yang berwarna hijau. 


Pohon Arak banyak tumbuh di kawasan Semenanjung Arab, juga daerah-daerah kering lainnya di Asia Barat dan Afrika. Pohon Arak termasuk tumbuh-tumbuhan menjalar, memiliki banyak akar dan ranting, berdaun hijau, sedikit kuning, jarang berbunga atau berbuah. Buahnya, yang disebut al-kabs, yang berbentuk bulat kecil, pada awalnya merah, kemudian menjadi cokelat dan menghitam, berasa agak pedas serta mengundang selera.

Pada 1986 dan 2000, World Health Organization (WHO) menyarankan penggunaan siwak untuk membersihkan gigi. Salah seorang peneliti siwak, Ramli Mohammed Diabi, menghabiskan 17 tahun masa hidupnya hanya untuk meneliti kegunaan siwak. Dia berpendapat, siwak juga berfungsi untuk menghilangkan efek kecanduan bagi perokok aktif.

11 Desember 2014

Jangan Menulisinya

Kumpulan Fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan 22

السؤال: هل يجوز الكتابة على أطراف صفحات القرآن من أحكام تجويد وتنبيهات أثناء التعليم؟

Tanya:
Apakah boleh menulis di tepi-tepi lembar mushaf Al-Qur'an, hal-hal yang terkait hukum-hukum tajwid, catatan-catatan penting tatkala ta'lim?
الجواب : لا، المصحف يجرد ما يكتب عليه شيء، يجرد للقرآن فقط، كان السلف ينهون حتى عن كتابة الأعشار وينهون عن ذلك، القرآن ما يكتب فيه إلا القرآن والآيات يجرد عن كتابة التفسير والهوامش والتجويد وغير ذلك هذه لها كتب مستقلة.

Jawab:

Tidak boleh. Mushaf itu dijaga keutuhannya, tidaklah pantas diberi tulisan apapun padanya, dijaga keutuhan Al-Qur'an saja.

Para salaf dulu, mereka melarangnya hingga sekedar menulis tanda al-a'syaar (tanda batas bacaan atau hafalan, persepuluh ayat) mereka melarang dari hal tersebut.

Tidaklah boleh ditulis pada Al-Qur'an itu kecuali Al-Qur'an itu sendiri dan ayat-ayat.

Dijaga dari penulisan tafsir, catatan-catatan kaki, tajwid atau selainnya, yang seperti itu selayaknya ditulis tersendiri.

Sumber: www.af.org.sa/en/node/2958

Penerjemah | Ustadz Hudzaifah bin Muhammad hafizhahullah
[ Grup WA Al-Fatawa Al-Fauzaniyyah ]

8 Desember 2014

Tergantung Niatnya !

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Terjemah Hadits
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab –radiallahuanhu-, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam- bersabda :
“Sesungguhnya setiap  perbuatan ada niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan”.
[Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang]

Sahabat Periwayat Hadits
Umar bin Khaththab adalah sahabat Rasulullah –shallallahu 'alaihi wasallam- yang mulia. Beliau adalah amirul mu'minin dan khalifah kaum muslimin yang kedua. Digelari al Faruq dan orang dari suku Quraisy yang mulia. Masuk Islam
pada tahun kelima atau keenam setelah Rasulullah diangkat menjadi rasul.

3 Desember 2014

Antara Bangun Tidur & Poligami

Para pembaca sekalian –baarakallahu fiikum- Muhammad bin Abdillah -shallallahu 'alaihi wasallam- adalah seorang nabi yang layak dicontoh amalan-amalanya. Karena disetiap amalan yang beliau lakukan akan membawa suatu berkah dan kebahagian. Allah –subhanahu wata'ala- berfirman :
وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"..dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat” [QS. anNur: 56]

Diantara kebiasaan nabi –shallallahu ‘alai wasallam- ketika beliau bangun dari tidur adalah berdo’a. Dan do’a yang beliau baca saat bangun dari tidur sebagaimana yang dikisahkan oleh sahabat beliau Hudzaifah  ibnul yaman –radhiyallahu 'anhu- yaitu :
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُور
“Segala pujian hanya milik Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepadanyalah kami dibangkitkan” [HR. Bukhari 8/69]

Yang dimaksud dengan mematikan kami adalah tidur, adapun maksud dibangkitkan adalah dihidupkan untuk dibangkitkan pada hari kiamat. Nabi –shallallahu 'alaihi wasallam- menegaskan berulangnya bangun setelah tertidur guna menetapkan adanya hari kebangkitan setelah kematian, karena tidur itu seperti mati [Syarh an Nawawiy 'ala shohih Muslim: 17/35]

14 Oktober 2014

Hilangkan Ngantuk Anda

Para pembaca –semoga Allah menjaga kalian- …
Berikut ini adalah amalan-amalan rasulullah dalam sehari semalam, kami sajikan secara berseri agar mudah menghafal dan yang terpenting mengamalkannya satu persatu. Berikut sajiannya..

Kebiasaan beliau  -shallallahu ‘alaihi wasallam- ketika bangun dari tidur adalah mengusap bekas-bekas tidur dari wajah beliau dengan tangannya.
Imam Nawawiy dan Imam Ibnu Hajar –rahimahumallah- telah menyebutkan sunnahnya hal tersebut yang diambil dari faidah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin abbas –radhiyallahu ‘anhu- dimana beliau berkata :
اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَعَلَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ
“Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bangun dari tidur lalu dia mulai mengusap dengan tangannya (bekas) tidur dari wajahnya”.  (Kitab Shahih Muslim 1/526, penerbit : Dar ihya atturats al ‘arabiy)

Faidah Sunnah Ini:
1. Disunnahkan mengusap wajah dengan tangan setelah bangun dari tidur dalam rangka mengikuti sunnah rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- karena perbuatan beliau adalah hujjah dan dalil sebagaimana sabda-sabda beliau.
2. Mengusap wajah setelah bangun dari tidur akan menjadikan kita bugar dan menghilangkan kemalasan, sehingga muncul kekuatan untuk beribadah.
3. Disebutkan dalam riwayat bahwa setelah beliau mengusap wajahnya dari bangun tidur, maka beliaupun membaca ayat terakhir dari surah Ali Imran. Sebagaimana di sebutkan oleh Abdullah bin Abbas –radhiyallahu ‘anhu-,
اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ ثُمَّ قَرَأَ الْعَشْر الآيَاتِ الْخَوَاتِمَ مِنْ سُورَةِ آلِ عِمْرَان

“Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bangun (di pertengahan malam), lalu beliau duduk seraya membersihkan kotoran dari wajahnya dengan tangannya, kemudian membaca sepuluh ayat terakhir surat Ali ‘Imron.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

7 Oktober 2014

Adab Makan Yang Terlupa

Sudah menjadi keharusan seorang muslim manakala Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam- memerintahkan sesuatu perkara atau melarang suatu perkara untuk bersikap sami’na wa atha’na (mendengar dan mematuhi). Lebih dari itu ia akan memaksa dirinya agar bisa mencontoh segala apa yang menjadi perilaku Rasulullah r apalagi itu merupakan perkara yang wajib dijalankan larangan yang harus ditinggalkan.

Ia selalu ingat firman Allah -subhanahu wata'ala- :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya" (QS. al Hasyr : 7)

Dan juga firman Allah -subhanahu wata'ala- :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al Ahzab : 21)
Dan salah satu teladan yang baik pada diri Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- adalah adab beliau ketika makan.
Adapun adab-adab makan yang seringkali dilupakan umat islam adalah sebagai berikut:

28 September 2014

Berilmu Tak Beramal

Pertanyaan :
Kebanyakan para penuntut ilmu pada hari ini mengetahui banyak keutamaan amal dan (besarnya) pahalanya. Seperti shalat malam, namun ia tak mampu melaksanakannya, yaitu mereka berilmu namun tak mengamalkannya, (bagaimana menurut anda) ?
Jawaban :
Amalan yang dijelaskan oleh nash-nash syariat itu ada dua. Pertama amalan wajib, maka seorang Muslim wajib melaksanakannya, baik yang berilmu ataupun yang tidak berilmu. Hendaklah ia perhatikan amalan tadi dan takut kepada Allah, serta tetap menjaganya. Seperti shalat lima waktu, mengeluarkan zakat, dan kewajiban yang lainnya. Kedua yaitu amalan yang mustahab (sunnah). Seperti shalat Tahajjud pada malam hari, shalat dhuha , dan semisalnya. Yang disyari’atkan bagi seorang mu’min adalah bersungguh-sungguh dan bersemangat mengamalkannya. Terutama para ulama (termasuk para penuntut ilmu –ed), karena mereka adalah panutan. Kalau mereka tidak sempat melaksanakannya, atau kadang-kadang meninggalkannya, maka itu tidak mengapa karena amalan tersebut sifatnya nafilah (amalan tambahan). Akan tetapi diantara sifat ahli ilmu dan orang-orang baik adalah perhatian kepada perkara ini dan menjaganya. Seperti tahajjud di amalm hari, shalat dhuha, shalat rawatib, dan lainya. (sumber : http://binbaz.org.sa/mat/1844)

23 September 2014

Ada Apa Dengan Dzulhijjah

Oleh : Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan segenap sahabatnya.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, rahimahullah, dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'anhuma bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda 
 مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ  يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ 
"Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun".
Imam Ahmad, rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

Baca Qur'an Tidak Tutup Aurat

Tanya :
  1. Gimana hukumnya membaca Ayat Suci Alqur’an tanpa menutup aurat dengan sempurna bagi wanita karena membacanya di dalam kamar seorang diri? 
  2. Saya suka baca Alqur’an, tp tajwidnya blm sempurna, masih banyak kekurangan seperti dalam penyebutannya dan lain2, Apakah saya jg dapat pahala atau kah malah dapat dosa karena salah dalam melafalkan Alqur’an? 
patm****ma@yahoo.com


Jawaban : 

Tidak mengapa seorang wanita dalam keadaan sendiri membaca al Qur’an tanpa menutup aurat dengan sempurna karena tak ada dalil yang mewajibkannya. Akan tetapi jika menutup auratnya, maka itu lebih baik dan merupakan salah satu adab membaca al-Qur’an. Allah berfirman :
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

”Barangsiapa yang mengagungkan syiar Allah, maka itu termasuk (bukti) ketaqwaan dalam hatinya” (QS. Al Hajj : 32)

18 September 2014

Berbicara Baik dan Wajah Berseri

عَنْ أَبـِيْ ذَرٍّ  قَالَ : قَالَ لـِيْ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ- : لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ المعْرُوفِ شَيْئاً وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
Dari Abi Dzar –radhiyallohu ‘anhu-, berkata : “ Rasulullah –shallallohu ‘alaihi wasallam- bersabda : “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri” (HR. Muslim)


Perawi hadits
Abu Dzar t adalah termasuk kalangan sahabat yang zuhud dan dari kalangan muhajirin, masuk Islam sejak awal dan kisah-kisah hidupnya banyak sekali. Ia meninggal pada tahun 32 Hijrah pada masa khilafah Utsman t
 Penjelasan Ringkas
Hadits ini membimbing kita untuk tidak meremehkan apa yang ada dalam ajaran Islam, sekecil apapun amalan tersebut dalam pandangan kita. Karena kadang perkara yang kecil dalam pandangn kita ternyata menjadi sesuatu yang amat besar disisi Allah. Sebagian ulama mengatakan :”Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar nilainya dikarenakan niatnya, dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil nilainya dikarenakan niatnya”.
Hadits diatas juga membimbing seseorang ketika menjumpai teman-temannya dengan muka berseri, gembira dan senyuman sebab lahiriyah manusia merupakan tanda batinya maka menjumpai saudara dengan seperti itu dapat memberikan rasa cinta dan gembira kepada mereka.
Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits
Dari hadits diatas maka kita dapat mengambil beberapa pelajaran, diantaranya :

1. Tidak boleh meremehkan kebaikan sekalipun sesuatu yang ringan.
2. Menggunakan kelembutan dan keceriaan ketika bersama teman.
3. Anjuran kepada hal-hal yang dapat menguatkan ikatan persaudaraan Islam.
4. Keceriaan di hadapan saudaramu merupakan kebaikan.
5. Memperhatikan niat ketika melakukan setiap amalan kebaikan.

26 Desember 2013

Keindahan Ilmu Agama

Mengungkap keutamaan ilmu adalah perkara yang tidak mudah, karena ilmu agama ibarat samudra yang tak pernah habis airnya. Lautan luas yang tak pernah kering walau seluruh manusia meneguk kesegarannya. Itulah ilmu agama. Satu-satunya wariran Rosululloh –shallallohu ‘alaihi wasallam-. Namun disini kami hanya ingin menyampaikan sebagian kecil dari keutamaannya yang termaktub didalam alQur’an dan asSunnah, baik secara tersurat ataupun tersirat. 
  


Alloh –subhanahu wata’ala- berfirman :

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“katakanlah apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya orang-orang berakallah yang mengambil pelajaran” (QS. Azzumar : 9)

10 Juni 2013

Belajar Mengatakan "Saya tidak tahu"



Wallahu a’lam saya tidak tahu’  itulah  sepenggal kalimat yang sangat sulit diucapkan oleh sebagian kaum muslimin terutama seorang tokoh agama atau tokoh masyarakat ketika mereka ditanya tentang masalah agama yang mereka tidak ketahui hukumnya. Fenomena ini sudah menjadi penyakit kronis yang menjangkiti sebagian tokoh-tokoh agama. Maka pada edisi kali ini akan kami bawakan dalil dan ucapan para shahabat dan ulama’ yang membimbing kita untuk belajar mengatakan “saya tidak tahu” terhadap hal-hal yang memang tidak kita ketahui, apalagi pada perkara-perkara yang ghaib yang tidak ada perincian dan penjelasannya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Allah -subhanahu wata'ala- berfirman :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggung-jawabannya” (Al-Isra:36)

Dalam ayat tersebut Allah I mengajarkan pada kita agar kita tidak berbicara tentang sesuatu kecuali dengan ilmu. Apalagi jika masalah itu berkaitan dengan Dzat Allah, perbuatan Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya, ataupun perkara-perkara yang belum terjadi seperti tanda-tanda hari kiamat, hari kebangkitan, hisab, surga dan neraka, ataupun yang selainnya.



Dalam masalah-masalah tersebut, kita tidak mungkin bisa mengetahuinya dengan keterbatasan panca indera atau akal kita. Kita hanya mengetahui sebatas apa yang diberitakan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits yang shahih sesuai dengan apa yang dipahami oleh para shahabat nabi -shallallahu 'alaihi wasallam-.