Tampilkan postingan dengan label Ruang Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruang Muslimah. Tampilkan semua postingan

11 Desember 2014

Bersolek ala Jahiliah

Roda kehidupan terus berjalan bagaikan air yang mengalir, tanpa penghalang. Perjalanan kehidupan ini dari zaman ke zaman terus mengalami perubahan. Era tahun 70-an berbeda dengan era tahun 80-an dan seterusnya.

Jika kita meneropong sebuah sudut kehidupan anak cucu Adam, khususnya kehidupan wanita dari zaman ke zaman, maka kita akan menemukan perubahan drastis sehingga muncullah istilah baru “Lain dulu, lain sekarang”.
Dahulu wanita malu berkeliaran di luar rumah, dan berusaha menjaga kesucian dan kehormatan dirinya, karena mengikuti firman Allah,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأُولَى  [الأحزاب : 33]
 “Dan hendaklah kalian (kaum wanita) tetap di rumahmu dan janganlah kalian ber-tabarruj (berhias) dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS. Al-Ahdzab: 33)
Kini mayoritas kaum muslimah berkeliaran di jalan-jalan, kantor-kantor, pompa-pompa bensin, mall-mall dengan berbagai macam tabarruj (solekan dan gaya) ala jahiliah, mulai dari pakaian sempit, transparan, pendek lagi seksi, lalu dipoles dengan berbagai merek make up buatan dalam negeri ataupun buatan mancanegara. Berjalan dengan selop tinggi, dan bau parfum yang merangsang birahi hewani kaum lelaki. Mereka bangga dengan penampilan tak senonoh itu, tanpa merasa bersalah. Padahal ia telah keluar dengan solekan ala jahiliah yang telah menguburkan rasa malunya.

13 Oktober 2014

Pernikahan Dalam Kacamata Islam

Menikah, sebagaimana praktik ibadah lainnya dalam Islam, juga terkepung oleh pelbagai penyimpangan. Bagaimana sesungguhnya “menikah” dalam kacamata Islam?


‘Imran bin Hiththan bin Zhabyan, seorang tabiin. Sebelum badai fitnah menghantam, ia seorang yang masyhur dengan menuntut ilmu dan hadits. Lantas, petaka pun tiba. Berawal dari dorongan hasratnya untuk menyadarkan putri pamannya, Hamnah, dari kungkungan paham Khawarij yang menyelimutinya. Ia pun beranjak coba merajut angan. Ia melangkah, mengikat tali kasih dengan putri berparas ayu Kharijiyah. Namun, angan tinggal angan. Citanya semula yang hendak menyadarkan Hamnah dari pemahaman Khawarij, ternyata sirna. Dirinya terfitnah. Pemahaman Khawarij sang istri justru menggerus benaknya. Lunturlah pemahaman Ahlus Sunnah yang lekat padanya. Jadilah ia seorang Khawarij. Ibnu Zhabyan As-Sadusi Al-Bashri, semula termasuk orang yang dijuluki ‘mata para ulama’, akan tetapi kini ia berubah menjadi seorang tokoh papan atas Khawarij. (Lihat Siyar A’lamin Nubala`, Adz-Dzahabi, 4/114- 115, Tahdzibut Tahdzib, Ibnu Hajar Al-’Asqalani, 3/317-318)

Sesungguhnya hati manusia semuanya ada di antara dua jari jemari Ar-Rahman. Jika menghendaki, Allah Subhanahu wa Ta'ala bisa memalingkan setiap hati manusia sesuai yang Dia kehendaki. Hendaknya setiap manusia merasa dirinya tidak aman dari fitnah. Ketergelinciran hati manusia bisa disebabkan dari arah manapun. Inilah yang harus diwaspadai. Tak menutup kemungkinan pula ketergelinciran hati seseorang disebabkan karena pernikahan. Berapa banyak orang yang terjatuh pada kesyirikan, lantaran pernikahan dan prosesi yang menyertainya. Berapa banyak pula, disadari atau tidak, mereka terjatuh pada kemaksiatan. Menyadari hati yang bisa berubah-ubah, lemah, mudah terwarnai keadaan dan perlu tiang pancang nan kokoh, hendaknya seorang yang beriman kembali pada apa yang telah dituntunkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

1 Oktober 2014

Wahai Wanita Bagaimana Engkau Di Surga ?

Sesungguhnya segala kenikmatan syurga tidaklah dikhususkan untuk laki-laki saja sehingga wanita tidak mendapatkannya akan namun syurga diperuntukkan untuk orang-orang bertaqwa, laki-laki maupun perempuan. Allah –subhanahu wata’ala- berfirman :

﴿  أُعِدَّتْ لِلْمُــتــَّقِيـْنَ ﴾

“(Syurga) disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (QS Ali 'Imran : 133)

Namun Allah telah menjadikan laki-laki terpikat dan merindukan syurga karena mengingat bidadari-bidadari dan wanita-wanita di syurga, dan yang seperti itu tidak disebutkan untuk wanita. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor :

Pertama : Umumnya wanita mempunyai rasa malu dan karena inilah Allah –subhanahu wata’ala-  tidak menjadikan mereka terpikat dengan apa yang mereka malu kepada-nya.

Kedua : Kerinduan seorang wanita akan lelaki tidaklah seperti kerinduan seorang laki-laki kepada wanita-sebagaimana sudah diketahui-, karenanya Allah –subhanahu wata’ala-  pun menjadikan lelaki merindukannya, sebagaimana sabda Rasulullah –shallallohu ‘alaihi wasallam- :
   
)  مَا تـَرَكْتُ بـَعْدِيْ فِتــْنـَةً  أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ  النــِّسَاءِ( رواه البخاري و مسلم

”Tidaklah ada fitnah yang aku tinggalkan sesudahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki dari pada wanita” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun wanita, mereka pun dijadikan oleh Allah –subhanahu wata’ala-  merindukan aneka perhiasan dari jenis-jenis pakaian bagus dan permata melebihi kerinduan lelaki akan hal itu.
Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله berkata:  “Sesungguhnya Allah –subhanahu wata’ala-   me-nyebutkan istri untuk suami karena suamilah yang mencari mereka dan merekalah yang menginginkan wanita sehingga disebutkanlah istri- istri untuk lelaki di syurga dan  tidak  menyebut  sebaliknya. Dan ini bukanlah berarti bahwa wanita di syurga tidak akan mempunyai suami. Akan tetapi mereka kelak akan mempunyai suami dari jenis manusia juga” (Al-Majmu’ Ats Tsamin (1/175))

30 September 2014

Wudhu Dengan Pakaian Sempit


Pertanyaan : 
Bagaimana hukum seorang wanita yang berwudhu, lalu tidak bisa mencuci siku nya dikarenakan sempitnya lengan bajunya, apakah cukup mengusapnya ?


Jawaban : 
Wanita tersebut tidak boleh melakukan hal tersebut, tidak boleh pula ia memakai pakaian yang sempit, karena hal tersebut tidak diperbolehkan. Wanita tersebut hendaklah memakai pakaian yang bisa ia singkap hingga sikunya (ketika berwudhu) supaya ia bisa mencucinya sampai siku. Siku adalah bagian dari hasta dan ia harus mencuci hastanya bersamaan dengan sikunya.
Maka yang yang wajib ia lakukan adalah meninggalkan pakaian yang sempit dan hendaklah ia memakai pakaian yang dengan pakaian itu ia mampu mencuci sikunya (ketika berwudhu)

(Dijawab oleh Syeikh Abdul Aziz bi Baz dari kaset Nur 'alad darbi)

25 September 2014

Memilih Istri Shalihah

Masih banyak pemuda-pemudi muslim dan muslimah yang belum tahu bagaimana cara mendapatkan pasangan yang shalih dan shalihah, sehingga tidak jarang mereka menempuh cara yang diharamkan dalam Islam dan mengantarkan mereka kepada perzinahan, baik zina mata, zina tangan, zina hati sampai zina kemaluan, yaitu dengan berpacaran.

Alasan mereka, sebelum menikah, setiap pasangan haruslah saling mengenal satu dengan yang lainnya. Padahal kenyataannya, untuk saling mengenal tidak mesti dengan berpacaran. Bahkan realitanya, mereka yang berpacaran akan berusaha menampakkan yang terbaik di depan pacarnya dan berusaha menyembunyikan kejelekan mereka agar dapat menikahi pasangannya atau membujuk pasangannya agar mau melakukan hal-hal yang hanya layak dilakukan oleh suami istri -wal’iyadzubillah-, sehingga setelah menikah tersingkaplah berbagai macam borok pasangannya. Akhirnya, masa pacarannya bisa lebih lama daripada masa pernikahannya.