11 Desember 2014

Bersolek ala Jahiliah

Roda kehidupan terus berjalan bagaikan air yang mengalir, tanpa penghalang. Perjalanan kehidupan ini dari zaman ke zaman terus mengalami perubahan. Era tahun 70-an berbeda dengan era tahun 80-an dan seterusnya.

Jika kita meneropong sebuah sudut kehidupan anak cucu Adam, khususnya kehidupan wanita dari zaman ke zaman, maka kita akan menemukan perubahan drastis sehingga muncullah istilah baru “Lain dulu, lain sekarang”.
Dahulu wanita malu berkeliaran di luar rumah, dan berusaha menjaga kesucian dan kehormatan dirinya, karena mengikuti firman Allah,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأُولَى  [الأحزاب : 33]
 “Dan hendaklah kalian (kaum wanita) tetap di rumahmu dan janganlah kalian ber-tabarruj (berhias) dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS. Al-Ahdzab: 33)
Kini mayoritas kaum muslimah berkeliaran di jalan-jalan, kantor-kantor, pompa-pompa bensin, mall-mall dengan berbagai macam tabarruj (solekan dan gaya) ala jahiliah, mulai dari pakaian sempit, transparan, pendek lagi seksi, lalu dipoles dengan berbagai merek make up buatan dalam negeri ataupun buatan mancanegara. Berjalan dengan selop tinggi, dan bau parfum yang merangsang birahi hewani kaum lelaki. Mereka bangga dengan penampilan tak senonoh itu, tanpa merasa bersalah. Padahal ia telah keluar dengan solekan ala jahiliah yang telah menguburkan rasa malunya.

Jangan Menulisinya

Kumpulan Fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan 22

السؤال: هل يجوز الكتابة على أطراف صفحات القرآن من أحكام تجويد وتنبيهات أثناء التعليم؟

Tanya:
Apakah boleh menulis di tepi-tepi lembar mushaf Al-Qur'an, hal-hal yang terkait hukum-hukum tajwid, catatan-catatan penting tatkala ta'lim?
الجواب : لا، المصحف يجرد ما يكتب عليه شيء، يجرد للقرآن فقط، كان السلف ينهون حتى عن كتابة الأعشار وينهون عن ذلك، القرآن ما يكتب فيه إلا القرآن والآيات يجرد عن كتابة التفسير والهوامش والتجويد وغير ذلك هذه لها كتب مستقلة.

Jawab:

Tidak boleh. Mushaf itu dijaga keutuhannya, tidaklah pantas diberi tulisan apapun padanya, dijaga keutuhan Al-Qur'an saja.

Para salaf dulu, mereka melarangnya hingga sekedar menulis tanda al-a'syaar (tanda batas bacaan atau hafalan, persepuluh ayat) mereka melarang dari hal tersebut.

Tidaklah boleh ditulis pada Al-Qur'an itu kecuali Al-Qur'an itu sendiri dan ayat-ayat.

Dijaga dari penulisan tafsir, catatan-catatan kaki, tajwid atau selainnya, yang seperti itu selayaknya ditulis tersendiri.

Sumber: www.af.org.sa/en/node/2958

Penerjemah | Ustadz Hudzaifah bin Muhammad hafizhahullah
[ Grup WA Al-Fatawa Al-Fauzaniyyah ]

10 Desember 2014

Mengapa engkau diutus ?

Banyak kaum muslimin yang tidak megetahui mengapa para Rasul diutus. Padahal mengetahui tujuan diutusnya para rasul akan mengatar kepada ketenangan dan keadilan dalam mendudukkan para Rasul –'alaihimush shalatu wasallam- di kedudukannya yang benar. 
Dan ketidak mengertian kaum muslimin terhadap hal itu menyebabkan mereka tidak bisa mendudukkan Rasulullah –shallallahu 'alaihi wasallam-  dan para rasul yang lainnya di kedudukannya yang semestinya. Sebagian orang berlebih-lebihan dalam mendudukan Rasulullah –shallallahu 'alaihi wasallam-. Sampai-sampai ada yang mendudukan beliau –shallallahu 'alaihi wasallam- sekedudukan dengan Allah –subhanahu wata'ala- yang telah menghasung mereka kepada kesyirikan. Misalnya ada diantara kaum muslimin yang berkeyakinan bahwa Rasulullah –shallallahu 'alaihi wasallam- mampu mengabulkan permintaan dan do'a kita kepada beliau atau keyakinan lainnya yang bertentangan dengan aqidah Islam. Disisi lain ada kaum muslimin yang meremehkan Rasulullah –shallallahu 'alaihi wasallam- dengan memandang beliau sebagai manusia yang diperlakukan sama dengan manusia yang lain yang bisa ditolak sabdanya dan tidak diikuti sunnahnya. 
Dua kutub manusia ini tentu telah tersalah dalam menyikapi Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam-. Disinilah terlihat pentingnya kita mengetahui mengapa Rasulullah –shallallahu 'alaihi wasallam- diutus. Sehingga kita bisa mengetahui seberapa pentingnya pengutusan seorang Rasul kepada manusia.

8 Desember 2014

Tergantung Niatnya !

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Terjemah Hadits
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab –radiallahuanhu-, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam- bersabda :
“Sesungguhnya setiap  perbuatan ada niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan”.
[Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang]

Sahabat Periwayat Hadits
Umar bin Khaththab adalah sahabat Rasulullah –shallallahu 'alaihi wasallam- yang mulia. Beliau adalah amirul mu'minin dan khalifah kaum muslimin yang kedua. Digelari al Faruq dan orang dari suku Quraisy yang mulia. Masuk Islam
pada tahun kelima atau keenam setelah Rasulullah diangkat menjadi rasul.